Rabu, 26 Februari 2014

Negeriku Malang



Ketika bencana sudah terjadi dimana-mana, gunung berapi bagai anak yang mengamuk setelah diusik oleh tangan-tangan manusia yang gatal, genangan air yang mereka sebut banjir seakan ingin merebut habitat manusia, tak hanya air yang tersisa namun juga trauma.
Belum lagi tangan dan gigi tikus-tikus nakal yang mungil menggerogoti berangkas pemerintahan, kongkalikongpun terjadi, seakan itu hal yang lumrah, seolah tak terjadi apa-apa.
Jeruji besi kini hanya menjadi tempat persinggahan bagi mereka yang mempertuhankan uang.
Para pemimpin bagai burung yang tiap pagi berkicau, tanpa tau apa isinya.
Menebar janji palsu sudah seperti menebar biji padi, sayangnya padi yang ditanam oleh petani lebih baik dari pada janji para pembual.

Negeriku malang oh sungguh negeriku malang, maafkan kami
Maafkan kami tuhan maafkan kami
 
;